{"id":2924,"date":"2023-03-31T11:47:30","date_gmt":"2023-03-31T04:47:30","guid":{"rendered":"https:\/\/legalnusa.com\/?p=2924"},"modified":"2023-03-31T11:47:30","modified_gmt":"2023-03-31T04:47:30","slug":"pendirian-yayasan-asing-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/pendirian-yayasan-asing-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Pendirian Yayasan Asing di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut United Nation Development Program, terdapat lebih dari 40.000 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">International Non-Governmental Organizations<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (INGOs) saat ini. Setiap NGO tersebut bergerak dalam bidang yang berbeda-beda seperti lingkungan, perlindungan anak, dan banyak lagi. Untuk meningkatkan dampak dari\u00a0 programnya, NGO seringkali akan memperluas cakupan ruang lingkup program hingga ke negara lain. Hal ini dapat dilakukan melalui pendirian NGO asing di negara lain atau kerja sama dengan NGO lokal di negara tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara yang sering menjadi target program NGO-NGO tersebut. Untungnya, Indonesia telah memiliki hukum yang komprehensif mengenai pendirian atau kerjasama dengan NGO asing khususnya dalam bentuk yayasan. Dalam artikel ini, akan dibahas mengenai pendirian suatu NGO berbentuk yayasan asing di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya, yayasan asing tidak harus berbadan hukum untuk menjalankan kegiatannya di Indonesia. Hal ini diatur dalam Pasal 69 Undang-undang No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. Bagi yayasan asing yang berbentuk badan hukum, ketentuannya diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 63 Tahun 2008 yang mengatur tentang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pelaksanaan Undang Undang Tentang Yayasan. Dalam Pasal 10 PP tersebut,\u00a0 pendirian yayasan asing merujuk pada pendirian yayasan oleh pihak asing atau pihak asing bersama dengan pihak Indonesia. Pihak asing yang dimaksud merujuk pada Warga Negara Asing (WNA) atau perseorangan dan badan hukum asing yang ingin mendirikan yayasan di Indonesia.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Bagi WNA, ia wajib membuktikan identitasnya melalui paspor yang sah, menyertakan paling sedikit Rp 100.000.000,00 sebagai kekayaan awal yayasan, dan menyertakan surat pernyataan pendiri bahwa kegiatan Yayasan yang didirikan tidak merugikan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Untuk badan hukum asing, pembuktian identitasnya dilakukan dengan keabsahan badan hukum pendiri yayasan sesuai hukumnya masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diluar ketentuan tersebut, pendirian yayasan NGO asing di Indonesia juga harus mengindahkan ketentuan pada umumnya termasuk ketentuan Kementrian-Kementrian. Hal ini karena pengajuan permohonan pendirian yayasan asing harus dilakukan ke Departemen Luar Negeri dalam bentuk proposal yang mencakup tujuan, lokasi, mitra kerja NGO Indonesia, dan jangka waktu dari NGO. Proposal tersebut akan ditinjau oleh BIN, Bais Polri, Bais TNI, Departemen hukum dan Hak Asasi Manusia, Departemen Luar Negeri, Departemen Tenaga Kerja, dan Kejaksaan Agung. Setelah diterima, Departemen Luar Negeri akan mengeluarkan izin dengan tembusan ke departemen Dalam Negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain pendirian, hukum Indonesia juga mengatur lebih lanjut mengenai kegiatan dan kepengurusan yayasan asing. Salah satu anggota pengurus inti yayasan asing tersebut yaitu ketua, sekretaris, atau bendahara harus berkewarganegaraan Indonesia. Selain itu, semua anggota pengurus juga wajib bertempat tinggal di Indonesia semua termasuk yang WNA.\u00a0 Maka, anggota pengurus yayasan asing yang WNA harus memiliki Kartu Izin Tinggal Sementara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk melaksanakan program\/kegiatan NGO asing di daerah, suatu NGO terlebih dahulu harus menunjukkan surat rekomendasi dari departemen luar negeri, perjanjian kerjasama dengan mitra NGO Indoesnisa, surat izin melaksanakan kegiatan di Indonesia dari departemen dalam negeri, dan surat izin melaksanakan kegiatan dari gubernur. Ditambah lagi, NGO asing harus melakukan pengelolaan keuangan berdasarkan mekanisme perbankan nasional dan menyusun laporan pertanggung jawaban. Laporan tersebut akan disampaikan kepada Bupati\/Walikota dan Gubernur setiap 6 bulan sekali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yayasan asing yang melakukan kegiatan di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, NGO tersebut harus bermitra dengan yayasan yang didirikan oleh WNI dengan\u00a0 maksud dan tujuan pendirian yang sama. Kemitraan tersebut ditujukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan program-program NGO tetap sesuai dengan budaya Indonesia dan prinsip-prinsip pancasila. Namun, perlu ditekankan bahwa kemitraan harus dihindarkan dari aspek politis, yuridis, teknis, dan sekuriti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, berikut merupakan persyaratan pendirian NGO berbentuk yayasan asing di Indonesia. Suatu NGO asing tidak harus berbadan hukum untuk melaksanakan kegiatannya di Indonesia. Namun, apabila ingin mendirikan cabang atau perwakilan di Indonesia, NGO tersebut dapat mendirikan yayasan asing. Untuk kemudahan pelaksanaan program, yayasan asing umumnya bermitra dengan NGO Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><b>Referensi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ben-Ari, Rephael Harel. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Legal Status of International Non-Governmental Organizations: Analysis of Past and Present Initiatives. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Ramat Gan., Martinus Nijhoff Publishers, 2013.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Irma Devita, \u201c Pendirian Cabang Yayasan Asing dan LSM Asing (NGO) di Indonesia,\u201d <\/span><a href=\"https:\/\/irmadevita.com\/2012\/pendirian-cabang-yayasan-asing-dan-lsm-asing-ngo-di-indonesia\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/irmadevita.com\/2012\/pendirian-cabang-yayasan-asing-dan-lsm-asing-ngo-di-indonesia\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, diakses 4 Januari 2023.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Undang-Undang Tentang Organisasi Kemasyarakatan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, UU Nomor 17 Tahun 2013. LN Tahun 2013 No. 116 TLN No. 5430.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Undang-Undang Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, UU Nomor 28 Tahun 2004. LN Tahun 2004 No. 115 TLN No. 4430.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Undang-Undang Tentang Yayasan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, UU Nomor 16 Tahun 2001. LN Tahun 2001 No. 112 TLN No. 4132.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang Undang Tentang Yayasan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, PP No. 63 Tahun 2008, LN No. 134 Tahun 2008, TLN. 4894.\u00a0<\/span><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut United Nation Development Program, terdapat lebih dari 40.000 International Non-Governmental Organizations (INGOs) saat ini. Setiap NGO tersebut bergerak dalam bidang yang berbeda-beda seperti lingkungan, perlindungan anak, dan banyak lagi. Untuk meningkatkan dampak dari\u00a0 programnya, NGO seringkali akan memperluas cakupan ruang lingkup program hingga ke negara lain. Hal ini dapat dilakukan melalui pendirian NGO asing [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2924","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-unik"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2924","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2924"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2924\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2925,"href":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2924\/revisions\/2925"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/legalnusa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}